Datang ke Sibanggor Julu bukan hanya soal melihat Gunung Sorik Marapi atau menikmati suasana perkampungan di dataran tinggi Mandailing Natal.
Jika diperhatikan lebih lama, desa ini seperti ruang hidup tempat arsitektur, musik tradisional, adat, pengetahuan lokal, dan hubungan antarmasyarakat masih dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebuah penelitian bahkan mengidentifikasi Sibanggor Julu sebagai perkampungan tradisional Mandailing dengan berbagai potensi wisata budaya.
Seni dan Budaya Mandailing di Sibanggor Julu terlihat paling jelas melalui Gordang Sambilan, rumah kayu beratap ijuk, adat perkawinan, hingga pengetahuan masyarakat terhadap lingkungan.
Beberapa di antaranya merupakan warisan budaya Mandailing secara luas, tetapi di Sibanggor Julu tradisi tersebut memperoleh konteks yang khas karena berkembang di kaki Gunung Sorik Marapi.
Karena itu, mengunjungi Sibanggor Julu sebenarnya bukan cuma perjalanan wisata. Kita juga sedang melihat bagaimana masyarakat mempertahankan identitas budaya sambil beradaptasi dengan perubahan ekonomi, teknologi, dan cara hidup modern.
Sibanggor Julu sebagai Kampung Tradisional Mandailing
Sibanggor Julu berada di wilayah budaya Mandailing, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Penelitian mengenai teknologi konstruksi lokal menyebut desa ini sebagai perkampungan tradisional yang masih memiliki rumah-rumah kayu hasil keterampilan turun-temurun.
Hal menariknya adalah budaya di Sibanggor Julu tidak berdiri sebagai pajangan. Rumah masih digunakan, adat tetap mempunyai fungsi sosial, sementara kesenian tradisional dapat muncul dalam acara masyarakat.
Penelitian mengenai daya tarik desa juga mengidentifikasi unsur seperti Gordang Sambilan, Bagas Godang, rumah ijuk, kerajinan, makanan lokal, dan tradisi sebagai bagian dari kekayaan Sibanggor Julu.
Artinya, identitas desa terbentuk dari gabungan benda, keterampilan, dan kebiasaan masyarakat.
Inilah yang membedakan kampung budaya yang masih hidup dengan kawasan yang sekadar menampilkan replika masa lalu.
Gordang Sambilan, Suara Kuat Budaya Mandailing
Jika harus memilih satu kesenian yang paling mudah dikaitkan dengan Mandailing, Gordang Sambilan hampir selalu berada di urutan teratas.
Sesuai namanya, ansambel ini memiliki sembilan gendang dengan ukuran berbeda sehingga menghasilkan karakter bunyi yang berlainan.
Balai Taman Nasional Batang Gadis menjelaskan bahwa perangkat tersebut dilengkapi instrumen lain seperti gong, mongmongan, serta alat tiup dalam penyajiannya.
Gordang Sambilan juga telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Sumatera Utara dalam domain seni pertunjukan, dengan penetapan pada 2013.
Yang membuatnya menarik, fungsi Gordang Sambilan tidak berhenti pada musik untuk hiburan.
Secara historis, instrumen ini mempunyai hubungan dengan berbagai upacara masyarakat Mandailing. Dalam perkembangan sekarang, Gordang Sambilan antara lain dimainkan dalam kegiatan adat seperti perkawinan.
Gordang Sambilan dalam perkawinan Sibanggor Julu
Keberadaan kesenian ini di Sibanggor Julu bukan sekadar dugaan berdasarkan budaya Mandailing secara umum.
Penelitian Rinda Niari dari Universitas Negeri Padang secara khusus mempelajari penyajian Gordang Sambilan pada upacara pernikahan masyarakat Sibanggor Julu.
Penelitian tersebut menemukan bahwa pertunjukannya melibatkan seniman, repertoar lagu, instrumen, kostum, waktu, tempat, serta penonton sebagai satu kesatuan pertunjukan.
Gordang biasanya dimainkan di halaman rumah ketika acara pernikahan berlangsung. Dari sini terlihat bahwa musik tradisonal masih mempunyai ruang di tengah kehidupan sosial masyarakat, bukan hanya dipentaskan dalam festival untuk wisatawan.
Adat Perkawinan dan Pentingnya Hubungan Kekerabatan
Budaya Mandailing juga sangat erat dengan sistem hubungan keluarga dan marga. Dalam kehidupan adat, perkawinan bukan hanya urusan antara dua orang, tetapi juga berkaitan dengan hubungan keluarga yang lebih luas.
Sibanggor Julu bahkan pernah menjadi lokasi penelitian khusus mengenai perkawinan semarga dalam adat Mandailing.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa praktik sosial masyarakat mengalami perubahan; perkawinan semarga yang sebelumnya memiliki batasan kuat dalam adat mengalami pergeseran dalam penerapannya di Sibanggor Julu.
Hal ini memberi insight menarik: budaya tidak selalu membeku dalam bentuk yang sama.
Generasi baru, pendidikan, agama, ekonomi, dan perubahan hubungan sosial dapat membuat sebagian aturan adat mengalami penyesuaian. Meski demikian, diskusi mengenai marga tetap memperlihatkan betapa pentingnya kekerabatan dalam kebudyaan Mandailing.
Dengan begitu, mempelajari budaya Sibanggor Julu berarti juga memahami proses perubahan, bukan hanya mencari sesuatu yang dianggap “asli” dari masa lalu.
Bagas Ijuk, Ketika Arsitektur Menjadi Warisan Budaya
Budaya Sibanggor Julu juga dapat dibaca dari bentuk rumahnya.
Desa ini terkenal dengan Bagas Ijuk, rumah panggung tradisional dengan konstruksi kayu dan atap berbahan ijuk. Balai Taman Nasional Batang Gadis menyebut rumah beratap ijuk sebagai salah satu ciri khas Desa Sibanggor Julu.
Penggunaan ijuk ternyata bukan hanya pilihan estetika.
Sibanggor Julu berada di kaki Gunung Sorik Marapi, sehingga lingkungannya dipengaruhi kondisi vulkanik.
Ijuk dinilai tahan terhadap pengaruh belerang dibandingkan beberapa material lain serta mampu membantu menjaga kestabilan suhu di dalam rumah. Bahan tersebut diperoleh dari pohon aren yang banyak terdapat di kebun masyarakat.
Kajian arsitektur juga menemukan bahwa rumah tradisional Sibanggor menggunakan material lokal berupa batu, kayu, bambu, dan ijuk. Teknik pembangunannya diwariskan melalui keterampilan para tukang dari generasi sebelumnya.
Jadi, Bagas Ijuk dapat dibaca sebagai pertemuan antara budaya dan kemampuan beradaptasi dengan alam.
Keterampilan Tukang Juga Bagian dari Budaya
Sering kali orang melihat rumah tradisional hanya dari bentuk akhirnya. Padahal, pengetahuan tentang cara membangunnya juga merupakan warisan penting.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia menemukan bahwa keterampilan membangun rumah kayu di Sibanggor Julu diwariskan dengan cara mengamati dan mengikuti teknik tukang yang lebih berpengalaman.
Masalahnya, jumlah tenaga ahli semakin terbatas dan ketertarikan generasi muda terhadap pekerjaan tersebut menurun.
Ini menjadi tantangan pelestarian yang cukup serius.
Kalau sebuah rumah tua rusak, bangunannya mungkin masih bisa diperbaiki. Tetapi jika pengetahuan mengenai pemilihan kayu, penyambungan struktur, pengolahan ijuk, dan teknik konstruksi hilang, bagian penting dari budaya juga ikut menghilang.
Karena itu, pelestarian Sibanggor Julu idealnya tidak hanya menjaga rumah lama, tetapi juga memastikan keterampilan tersebut dapat dipelajari generasi berikutnya.
Kearifan Lokal dalam Memanfaatkan Tumbuhan
Budaya masyarakat tidak selalu berbentuk tarian, musik, atau bangunan. Pengetahuan mengenai alam juga termasuk di dalamnya.
Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2017 terhadap masyarakat Sibanggor Julu menemukan 31 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional. Data diperoleh melalui wawancara terhadap 37 informan menggunakan pendekatan partisipatif.
Kunyit menjadi salah satu tumbuhan yang banyak dimanfaatkan, sementara daun merupakan bagian tanaman yang dominan digunakan. Cara pengolahannya beragam, termasuk dengan direbus.
Pengetahuan seperti ini biasanya terbentuk melalui pengalaman panjang masyarakat berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Dalam konteks Sibanggor Julu yang berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Batang Gadis, pengetahuan mengenai tanaman bukan sekadar aktifitas praktis. Ia juga menjadi bagian dari hubungan budaya antara manusia dan alam yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tantangan Menjaga Budaya di Tengah Modernisasi
Sibanggor Julu tentu tidak berada di luar perubahan zaman.
Material bangunan baru semakin mudah diperoleh, gaya hidup berubah, pekerjaan masyarakat berkembang, dan generasi muda mempunyai pilihan aktivitas yang jauh lebih beragam.
Penelitian konstruksi rumah tradisional menunjukkan bahwa perubahan ekonomi dan budaya memang ikut memengaruhi keberlanjutan keterampilan ketukangan lokal.
Di sisi lain, pariwisata dapat menjadi peluang.
Kampung tradisional, rumah ijuk, Gordang Sambilan, adat, kuliner, hingga pengetahuan lokal bisa menjadi pengalaman wisata yang bernilai selama masyarakat tetap menjadi pelaku utama.
Studi mengenai daya tarik Sibanggor Julu juga menempatkan unsur budaya tersebut sebagai bagian penting dari potensi desa.
Pelestarian yang baik bukan berarti memaksa masyarakat hidup seperti ratusan tahun lalu. Yang lebih penting adalah memberi ruang agar pengetahuan lama tetap memiliki fungsi dan nilai di masa sekarang.
Seni dan Budaya Mandailing di Sibanggor Julu hadir dalam banyak bentuk.
Gordang Sambilan masih berkaitan dengan upacara pernikahan, Bagas Ijuk memperlihatkan kecerdasan arsitektur lokal, sementara adat kekerabatan dan pengetahuan mengenai tumbuhan menunjukkan bahwa kebudayaan hidup jauh melampaui pertunjukan seni.
Tantangan terbesar justru terletak pada pewarisan. Ketika tukang tradisional semakin sedikit dan gaya hidup berubah, sebagian pengetahuan lokal berpotensi ikut menghilang.
Jika berkunjung ke Sibanggor Julu, jangan hanya datang untuk mengambil foto rumah ijuk.
Luangkan waktu melihat kehidupan kampung, mendengar Gordang Sambilan jika ada kegiatan budaya, dan berbincang dengan masyrakat. Dari sanalah cerita Mandailing terasa jauh lebih hidup.
FAQ
1. Apa kesenian tradisional yang terkenal di Sibanggor Julu?
Salah satu yang paling menonjol adalah Gordang Sambilan, ansambel musik tradisional Mandailing yang juga dipertunjukkan dalam upacara pernikahan di Sibanggor Julu.
2. Apa itu Gordang Sambilan?
Gordang Sambilan merupakan seperangkat sembilan gendang dengan ukuran dan karakter bunyi berbeda. Kesenian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Sumatera Utara.
3. Apa yang khas dari rumah tradisional Sibanggor Julu?
Ciri paling mudah dikenali adalah rumah panggung kayu beratap ijuk atau Bagas Ijuk. Material tersebut menggunakan sumber daya lokal dan sesuai dengan kondisi lingkungan di kaki Sorik Marapi.
4. Apakah masyarakat Sibanggor Julu masih memiliki pengetahuan pengobatan tradisional?
Ya. Penelitian tahun 2017 mencatat pemanfaatan 31 jenis tumbuhan sebagai bahan pengobatan tradisional oleh masyarakat Sibanggor Julu.
5. Apa tantangan pelestarian budaya Sibanggor Julu?
Salah satunya adalah berkurangnya tenaga ahli dalam pembangunan rumah kayu tradisional serta perubahan ekonomi dan gaya hidup. Pewarisan keterampilan kepada generasi muda menjadi bagian penting dalam pelestarian.