Kearifan Lokal Masyarakat Sibanggor Julu di Kaki Sorik Marapi

Ketika mendengar istilah kearifan lokal, kita mungkin langsung membayangkan upacara adat atau aturan tradisional yang diwariskan sejak zaman leluhur. Padahal, bentuknya bisa jauh lebih sederhana.

Cara memilih bahan untuk membangun rumah, mengenali tumbuhan obat, memanfaatkan bambu, hingga bekerja bersama tetangga juga merupakan bagian dari pengetahuan lokal.

Hal seperti inilah yang membuat kearifan lokal masyarakat Sibanggor Julu menarik untuk dipelajari. Desa yang berada di kawasan kaki Gunung Sorik Marapi, Mandailing Natal, ini hidup berdampingan dengan lingkungan pegunungan dan Taman Nasional Batang Gadis.

Bahkan sebuah publikasi khusus mengenai Sibanggor Julu telah mendokumentasikan kearifan tradisional masyarakat yang berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan alam.

Pengetahuan tersebut tidak muncul dalam semalam. Ia terbentuk dari pengalaman panjang menghadapi udara pegunungan, sumber daya hutan, lingkungan vulkanik, lahan pertanian, serta kebutuhan hidup sehari-hari.

Karena itu, mengenal Sibanggor Julu tidak cukup hanya dengan melihat rumah-rumah ijuknya. Ada cara berpikir tentang alam dan kehidupan sosial yang tersimpan di balik kampung tersebut.

Kearifan Lokal Bukan Sekadar Tradisi Seremonial

Kearifan lokal dapat dipahami sebagai pengetahuan dan kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat setelah melalui pengalaman panjang.

Di Sibanggor Julu, bentuknya terlihat sangat praktis. Masyarakat memanfaatkan tumbuhan sekitar untuk pengobatan, menggunakan ijuk sebagai atap rumah, memanfaatkan bambu untuk kebutuhan rumah tangga, serta mempertahankan budaya gotong royong dalam kehidupan sosial.

Artinya, kearifan tidak selalu berupa aturan tertulis.

Sebagian justru diwariskan melalui contoh. Anak melihat orang tuanya memilih tumbuhan tertentu, seseorang belajar membuat rumah dari tukang yang lebih berpengalaman, sementara kebiasaan saling membantu diteruskan melalui kegiatan bersama.

Cara seperti ini membuat pengetahuan tradisional menyatu dengan aktifitas sehari-hari.

Namun di zaman modern, pewarisan semacam itu menghadapi tantangan. Ketika material baru lebih mudah diperoleh dan pola kehidupan berubah, sebagian pengetahuan lama bisa perlahan kehilangan ruang.

Bagas Ijuk, Bentuk Adaptasi terhadap Sorik Marapi

Contoh paling mudah dilihat adalah Bagas Ijuk, rumah panggung tradisional Sibanggor Julu.

Balai Taman Nasional Batang Gadis menjelaskan bahwa pemilihan atap ijuk memiliki alasan yang sangat praktis. Sibanggor Julu berada di kaki Gunung Sorik Marapi, dan ijuk relatif tahan terhadap pengaruh zat belerang yang dapat mempercepat kerusakan material atap seperti seng.

Atap ijuk juga membantu menjaga kondisi suhu di dalam rumah. Ketika musim hujan, rumah terasa lebih hangat, sementara saat cuaca panas bagian dalamnya cenderung lebih sejuk. Dengan pemeliharaan yang baik, ijuk bahkan dapat memiliki usia pakai yang panjang.

Yang menarik, bahan tersebut berasal dari pohon aren yang tumbuh di kebun masyarakat.

Jadi rumah tradisional ini menunjukkan prinsip sederhana tetapi penting: gunakan bahan yang tersedia di sekitar dan sesuaikan bangunan dengan kondisi alam tempat tinggal.

Jauh sebelum konsep bangunan ramah lingkungan menjadi populer, prinsip semacam itu sudah diterapkan oleh masyarakat.

Pengetahuan Tumbuhan Obat yang Masih Bertahan

Kearifan lokal Sibanggor Julu juga dapat ditemukan dalam cara masyarakat mengenali tanaman.

Penelitian yang dilakukan pada April–Juni 2017 mewawancarai 37 informan untuk mengetahui penggunaan tumbuhan obat oleh masyarakat desa. Hasilnya menemukan 31 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional.

Famili Zingiberaceae menjadi kelompok yang paling dominan, sedangkan kunyit atau Curcuma longa merupakan salah satu tanaman yang paling banyak digunakan.

Bagian tanaman yang paling sering dimanfaatkan adalah daun dengan persentase sekitar 39 persen. Sementara itu, salah satu metode pengolahan yang paling umum adalah direbus, tercatat sekitar 28 persen dalam penelitian tersebut.

Data itu memperlihatkan bahwa masyarakat tidak hanya mengetahui nama tumbuhan.

Ada pengetahuan mengenai bagian mana yang digunakan dan bagaimana cara mengolahnya. Informasi semacam ini biasanya berkembang dari pengalaman antargenerasi.

Tentu, pengobatan tradisional tidak seharusnya menggantikan pemeriksaan medis untuk kondisi serius. Namun dari perspektif budaya, pengetahuan tersebut tetap penting sebagai bagian dari hubungan manusia dengan biodiversitas di sekitarnya.

Bambu dan Cara Memanfaatkan Hutan Tanpa Melupakan Kelestarian

Bambu menjadi contoh lain hubungan masyarakat Sibanggor Julu dengan sumber daya alam.

Direktorat Jenderal KSDAE mencatat sedikitnya enam jenis bambu di zona tradisional Taman Nasional Batang Gadis yang berada di sekitar Sibanggor Julu.

Jenis tersebut antara lain dikenal secara lokal sebagai Bulu Poring, Bulu Sorik, Bulu Aor, Bulu Soma, Bulu Parapat, dan Bulu Tolang.

Masyarakat memanfaatkannya untuk kebutuhan praktis seperti pagar, kandang ayam, dan berbagai peralatan dapur.

Ini merupakan contoh menarik dari hasil hutan bukan kayu atau HHBK. Masyarakat bisa memperoleh manfaat dari kawasan sekitar tanpa selalu menjadikan pohon berkayu sebagai sumber utama.

KSDAE juga menekankan bahwa pemanfaatan bambu tersebut perlu tetap memperhatikan fungsi dan kelestarian hutan.

Prinsip inilah yang menjadi inti penting kearifan lingkungan: mengambil manfaat, tetapi tetap memahami bahwa sumber daya memiliki batas.

Aren dari Atap Rumah hingga Sumber Penghasilan

Pohon aren mempunyai posisi menarik dalam kehidupan masyarakat Sibanggor Julu.

Serat ijuknya digunakan sebagai material atap rumah. Di sisi lain, aren juga memiliki nilai ekonomi melalui pemanfaatan niranya menjadi gula aren.

Balai TN Batang Gadis menyebut bahan baku ijuk untuk rumah tradisional berasal dari pohon aren yang banyak terdapat di kebun masyarakat Sibanggor.

Keberadaan produk gula aren masyarakat juga terdokumentasi. Direktorat Jenderal KSDAE pernah memasukkan gula aren dari Sibanggor Julu sebagai salah satu produk desa penyangga TN Batang Gadis yang dibeli dalam program dukungan ekonomi masyarakat ketika pandemi Covid-19.

Dari satu jenis tanaman saja terdapat beberapa manfaat.

Aren dapat menyediakan ijuk untuk bangunan sekaligus menghasilkan bahan pangan bernilai ekonomi. Pola pemanfaatan seperti ini menunjukkan bagaimana masyarakat tradisonal sering melihat tanaman secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan satu produk.

Dalam konteks ekonomi desa masa kini, pengetahuan tersebut juga mempunyai peluang dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Marsialapari dan Budaya Saling Membantu

Hubungan manusia dengan alam hanya satu sisi kearifan lokal. Sisi lainnya adalah hubungan antarmanusia.

Studi mengenai potensi wisata pedesaan Sibanggor Julu memasukkan Marsialapari, yang dijelaskan sebagai kegiatan gotong royong masyarakat lokal, sebagai salah satu aktivitas budaya desa.

Gotong royong mempunyai nilai penting dalam kehidupan masyarakat agraris.

Pekerjaan yang terasa berat ketika dilakukan sendiri menjadi lebih ringan ketika dikerjakan bersama. Prinsip saling membantu juga memperkuat hubungan sosial karena anggota masyarakat tidak hidup sepenuhnya sebagai individu yang terpisah.

Marsialapari karena itu bukan hanya soal menyelesaikan pekerjaan.

Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, timbal balik, dan tanggung jawab sosial. Orang membantu bukan selalu karena menghitung upah, tetapi karena mengetahui suatu saat orang lain juga mungkin membutuhkan bantuan.

Nilai seperti ini sangat relevan bahkan dalam kehidupan modern.

Hidup Berdampingan dengan Kawasan Taman Nasional Batang Gadis

Sibanggor Julu juga mempunyai posisi menarik karena berhubungan langsung dengan lanskap Taman Nasional Batang Gadis.

TN Batang Gadis memiliki luas sekitar 72.803 hektare setelah proses penetapan batas kawasan.

Taman nasional tersebut dibentuk pada 2004 dengan keterlibatan pemerintah daerah, masyarakat, pemerintah pusat, dan berbagai pihak sebagai bagian dari upaya mempertahankan ekosistem Mandailing Natal.

Di dalam konteks ini, masyarakat desa penyangga memiliki posisi penting.

Konservasi tidak mungkin hanya mengandalkan petugas taman nasional. Kehidupan penduduk sekitar, pola pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, pertanian, hingga ekonomi keluarga ikut menentukan bagaimana tekanan terhadap kawasan berkembang.

Karena itu, pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari konservasi. Balai TNBG sendiri pernah mendukung produk masyarakat desa penyangga, termasuk gula aren Sibanggor Julu.

Pendekatan seperti ini memperlihatkan bahwa menjaga hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat idealnya berjalan bersama.

Kearifan Lokal Bisa Menjadi Bagian dari Wisata Desa

Sibanggor Julu mempunyai peluang memperkenalkan kearifan lokal melalui wisata berbasis pengalaman.

Pengunjung tidak harus sekadar datang, memotret rumah ijuk, kemudian pulang. Mereka dapat diajak memahami alasan ijuk digunakan, mengenal pohon aren, melihat pemanfaatan bambu, mendengar cerita tentang tumbuhan obat, atau memahami budaya Marsialapari.

Penelitian mengenai daya tarik Sibanggor Julu memang menempatkan unsur kehidupan masyarakat dan gotong royong bersama daya tarik budaya lainnya sebagai bagian dari potensi wisata pedesaan.

Model wisata seperti ini mempunyai dua keuntungan.

Pertama, wisatawan mendapatkan cerita yang lebih mendalam. Kedua, pengetahuan lokal memperoleh nilai baru sehingga generasi muda mempunyai alasan untuk tetap mempelajarinya.

Namun wisata budaya juga perlu dilakukan dengan hati-hati.

Rumah adalah tempat tinggal, tumbuhan obat bukan suvenir yang bebas diambil, dan tradisi tidak semestinya dipentaskan secara berlebihan hanya untuk memenuhi ekspektasi pengunjung.

Menjaga Kearifan Lokal di Tengah Perubahan Zaman

Tidak semua kebiasaan lama harus dipertahankan tanpa perubahan. Kearifan lokal justru bisa bertahan jika mampu menyesuaikan diri.

Atap ijuk dapat dipelajari kembali melalui arsitektur ramah lingkungan, tumbuhan obat dapat didokumentasikan secara ilmiah, sementara bambu dapat dikembangkan menjadi produk kerajinan tanpa mengeksploitasi sumber dayanya.

Yang paling penting adalah menjaga pengetahuannya.

Kalau generasi muda tidak lagi mengetahui mengapa ijuk dipilih, tanaman apa yang dahulu dimanfaatkan, atau bagaimana budaya gotong royong bekerja, bangunan dan produk tradisional mungkin masih ada tetapi maknanya perlahan hilang.

Dokumentasi, pendidikan lokal, penelitian, wisata berbasis masyarakat, dan keterlibatan generasi muda dapat menjadi jalan untuk mencegah hal tersebut.

Kearifan tidak harus membuat Sibanggor Julu berhenti menjadi modern. Justru pengetahuan lama bisa menjadi dasar untuk menghadapi masa depan dengan cara yang lebih bijak.

Kearifan lokal masyarakat Sibanggor Julu dapat ditemukan dalam banyak hal sederhana tetapi bermakna.

Bagas Ijuk menunjukkan kemampuan menyesuaikan rumah dengan lingkungan vulkanik, sementara penelitian mencatat 31 jenis tumbuhan yang digunakan dalam pengetahuan pengobatan masyarakat.

Bambu dan aren juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun ekonomi. Di sisi sosial, Marsialapari menunjukkan bahwa kebersamaan tetap menjadi bagian penting kehidupan kampung.

Jika berkunjung ke Sibanggor Julu, jangan hanya melihat apa yang tampak di permukaan. Bertanyalah mengapa rumah menggunakan ijuk, dari mana bahan itu berasal, dan bagaimana warga memanfaatkan lingkungan.

Dari percakapan seperti itulah kita bisa menemukan bahwa warisan paling berharga terkadang bukan benda, tetapi pengetahuan.

FAQ

1. Apa contoh kearifan lokal masyarakat Sibanggor Julu?

Contohnya meliputi penggunaan ijuk untuk atap rumah, pemanfaatan tumbuhan obat, penggunaan bambu untuk kebutuhan sehari-hari, pemanfaatan aren, serta budaya gotong royong atau Marsialapari.

2. Mengapa masyarakat Sibanggor menggunakan atap ijuk?

Ijuk relatif tahan terhadap pengaruh belerang dari lingkungan Gunung Sorik Marapi dan membantu menjaga suhu di dalam rumah agar lebih nyaman.

3. Apakah masyarakat Sibanggor Julu masih menggunakan tumbuhan obat?

Penelitian pada 2017 menemukan penggunaan 31 jenis tumbuhan obat oleh masyarakat Sibanggor Julu. Kunyit menjadi salah satu jenis yang banyak dimanfaatkan.

4. Apa itu Marsialapari?

Marsialapari merupakan praktik gotong royong atau saling membantu yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Studi wisata pedesaan Sibanggor Julu memasukkannya sebagai salah satu aktivitas masyarakat lokal.

5. Apa hubungan Sibanggor Julu dengan Taman Nasional Batang Gadis?

Sibanggor Julu berada dalam lanskap yang berhubungan erat dengan TN Batang Gadis dan tercatat sebagai lokasi zona tradisional pemanfaatan hasil hutan bukan kayu seperti bambu. Balai TNBG juga bekerja dengan masyarakat desa penyangga dalam kegiatan pemberdayaan.