Mengenal Gordang Sambilan dalam Budaya Mandailing dan Maknanya

Bayangkan sembilan gendang berukuran besar disusun berurutan, lalu dimainkan bersama hingga menghasilkan dentuman yang terasa kuat bahkan sebelum kita memahami pola musiknya.

Bagi masyarakat Mandailing, suara seperti ini bukan sekadar hiburan. Ia membawa cerita tentang adat, hubungan sosial, perjalanan kebudayaan, dan identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Itulah Gordang Sambilan dalam budaya Mandailing, salah satu seni musik tradisional paling dikenal dari Mandailing Natal, Sumatera Utara. Nama gordang berarti gendang atau bedug, sedangkan sambilan berarti sembilan.

Sesuai namanya, instrumen utama kesenian ini terdiri atas sembilan gendang dengan ukuran berbeda yang menghasilkan karakter suara berbeda pula.

Nilainya juga sudah mendapat pengakuan secara nasional. Data Pokok Kebudayaan mencatat Gordang Sambilan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Sumatera Utara yang ditetapkan pada 2013.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat Gordang Sambilan begitu penting bagi masyarakat Mandailing?

Apa Itu Gordang Sambilan?

Gordang Sambilan merupakan ansambel musik tradisional Mandailing dengan sembilan buah gendang sebagai instrumen utamanya.

Kesembilan gendang tersebut tidak berukuran sama, tetapi tersusun dari ukuran yang lebih kecil hingga besar sehingga menghasilkan variasi nada dan karakter bunyi.

Balai Taman Nasional Batang Gadis menjelaskan bahwa perangkat gendang tersebut memiliki penamaan berdasarkan posisi dan karakter permainannya.

Gendang pertama dan kedua disebut taba-taba, gendang ketiga tepe-tepe, diikuti kudong-kudong, kudong-kudong nabalik, pasilion, hingga tiga gendang besar yang dikenal sebagai jangat.

Dalam pertunjukan lengkap, suara sembilan gordang juga dapat didukung instrumen lain seperti gong dan mongmongan. Kombinasi inilah yang menciptakan lapisan ritme kuat yang menjadi ciri khas musik Mandailing.

Bagi orang yang baru mendengarnya, dentuman Gordang Sambilan mungkin terasa seperti musik perkusi besar. Namun bagi masyrakat Mandailing, setiap pertunjukan memiliki konteks sosial yang jauh lebih luas.

Mengapa Jumlahnya Harus Sembilan?

Angka sembilan adalah bagian paling mudah dikenali dari Gordang Sambilan. Bahkan nama kesenian ini secara langsung mengacu pada sembilan gendang yang menjadi pusat ansambelnya.

Perbedaan ukuran bukan sekadar dibuat agar terlihat menarik. Diameter dan panjang masing-masing gendang menghasilkan bunyi yang berbeda, kemudian pemain menggabungkannya menjadi pola ritme tertentu.

Karena itu, sembilan gordang sebaiknya dipahami sebagai satu kesatuan musikal.

Bayangkan sebuah kelompok musik modern yang memiliki bass, drum, gitar, dan instrumen lain dengan peran berbeda. Pada Gordang Sambilan, variasi ukuran gendang memungkinkan setiap instrumen mengisi bagian tertentu sehingga bunyi akhirnya terasa lebih berlapis.

Permainannya juga membutuhkan koordinasi. Sumber Balai Taman Nasional Batang Gadis mencatat seperangkat Gordang Sambilan biasa dimainkan oleh beberapa pemain secara bersamaan.

Justru di sinilah daya tariknya. Kekuatannya tidak berasal dari satu pemain, tetapi dari ketepatan banyak orang memainkan pola yang saling mengisi.

Dari Ritual Lama hingga Upacara Adat

Untuk memahami Gordang Sambilan, kita perlu melihatnya lebih jauh daripada sekadar alat musik.

Catatan Balai Taman Nasional Batang Gadis menjelaskan bahwa sebelum perkembangan Islam di Mandailing, Gordang Sambilan berhubungan dengan ritual Paturuan Sibaso.

Dalam tradisi lama tersebut, musik menjadi bagian dari ritual yang dikaitkan dengan pemanggilan roh leluhur melalui seorang medium yang disebut sibaso.

Perubahan agama dan kehidupan sosial kemudian ikut mengubah fungsi kesenian tersebut.

Penelitian dari ISI Yogyakarta menyebut fungsi dan peran Gordang Sambilan pada dasarnya berkaitan dengan upacara adat masyarakat Mandailing. Perjalanannya juga mengalami perubahan akibat pengaruh agama serta masuknya musik modern.

Artinya, Gordang Sambilan yang kita lihat sekarang adalah hasil perjalanan budaya panjang.

Tradisi tidak selalu bertahan dengan bentuk yang sama persis. Fungsi tertentu dapat berkurang, sementara fungsi lainnya muncul dan menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Gordang Sambilan dalam Pernikahan Mandailing

Salah satu tempat Gordang Sambilan masih dapat ditemukan adalah dalam kegiatan perkawinan adat.

Penelitian mengenai penyajian Gordang Sambilan di Sibanggor Julu, Mandailing Natal, memperlihatkan bahwa kesenian ini dipertunjukkan sebagai ansambel tradisional pada acara pernikahan. Unsur pertunjukannya mencakup pemain, repertoar, instrumen, kostum, waktu, tempat, hingga penonton.

Menariknya, penelitian tersebut mencatat pertunjukkan dilakukan di halaman rumah ketika upacara pernikahan berlangsung.

Hal ini memperlihatkan bahwa Gordang Sambilan masih memiliki hubungan dengan ruang sosial masyarakat.

Musiknya tidak selalu membutuhkan gedung pertunjukan besar. Halaman rumah, keluarga yang berkumpul, tamu undangan, serta rangkaian adat justru menjadi bagian dari konteks yang membuat Gordang Sambilan terasa hidup.

Bagi pengunjung, melihat pertunjukan dalam situasi seperti ini tentu memberikan pengalaman berbeda dibanding menyaksikannya sebagai atraksi panggung biasa.

Hubungan Gordang Sambilan dengan Onang-Onang

Musik Mandailing tidak berdiri hanya dari permainan gendang. Dalam beberapa konteks adat, Gordang Sambilan juga mempunyai hubungan dengan tradisi vokal seperti Onang-Onang.

Penelitian musikologis dari ISI Yogyakarta menjelaskan bahwa Onang-Onang pada ansambel Gordang Sambilan mempunyai fungsi yang berkaitan dengan komunikasi dalam upacara adat. Melalui nyanyian tersebut, maksud atau tujuan acara dapat disampaikan dalam bentuk musikal.

Struktur musik Onang-Onang dalam penelitian itu memiliki introduksi dan bagian lagu pokok, dengan pengulangan sebagai salah satu karakter pentingnya.

Di sinilah kita bisa melihat bahwa musik tradisional Mandailing sebenarnya cukup kompleks.

Ada ritme perkusi, vokal, pesan sosial, dan konteks upacara yang saling terhubung. Jadi ketika mendengar Gordang Sambilan, kita bukan hanya sedang mendengar bunyi sembilan gendang.

Kita sedang berhadapan dengan sebuah sistem seni pertunjukan yang tumbuh bersama kebudyaan masyarakat Mandailing.

Gordang Sambilan sebagai Identitas Mandailing

Tidak semua alat musik tradisional mampu menjadi simbol daerahnya. Gordang Sambilan termasuk yang berhasil memiliki posisi tersebut.

Statusnya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2013 menunjukkan bahwa nilainya tidak hanya dianggap penting bagi Mandailing Natal, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Dalam daftar resmi Data Pokok Kebudayaan, Gordang Sambilan masuk dalam domain seni pertunjukan.

Identitas tersebut semakin kuat karena kesenian ini masih mempunyai hubungan langsung dengan masyarakat.

Penelitian mengenai konservasi kelompok Gordang Sambilan Wiliem Iskander di Pidoli Lombang, Mandailing Natal, misalnya, memperlihatkan adanya usaha mempertahankan fungsi dasar kesenian sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.

Ini penting karena sebuah warisan budaya hanya benar-benar hidup jika masih ada orang yang memainkannya, memahami konteksnya, dan mengajarkannya kembali.

Dokumentasi memang penting. Namun video dan foto tidak dapat menggantikan pengetahuan yang dimiliki pemain.

Tantangan Melestarikan Gordang Sambilan

Modernisasi membawa kesempatan sekaligus tantangan.

Di satu sisi, media sosial, festival budaya, sekolah, dan pariwisata membuat Gordang Sambilan lebih mudah dikenal oleh generasi baru. Orang yang belum pernah datang ke Mandailing Natal pun dapat menemukan rekaman pertunjukannya melalui internet.

Di sisi lain, perubahan selera musik dan kehidupan sosial dapat membuat ruang bagi kesenian tradisonal semakin terbatas.

Penelitian mengenai konservasi Gordang Sambilan mencatat bahwa perkembangan fungsi kesenian ini memang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh budaya luar dan musik modern.

Penelitian lain dari Universitas Negeri Padang bahkan secara khusus membahas pelestarian Gordang Sambilan di Mandailing Natal selama periode 2008-2019, menunjukkan bahwa keberlanjutan kesenian tersebut sudah menjadi perhatian tersendiri.

Pelestarian karena itu tidak cukup dengan menyimpan seperangkat gordang di museum.

Generasi muda perlu mendapatkan kesempatan belajar memainkan instrumen, memahami lagu, mengetahui fungsi adatnya, dan mengenali etika ketika Gordang Sambilan dipertunjukkan.

Dengan cara itu, kesenian tetap bisa berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Mengapa Gordang Sambilan Layak Dikenal Lebih Luas?

Gordang Sambilan menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan jika kita hanya melihat budaya Mandailing dari buku.

Kita dapat mendengar kekuatan ritmenya, melihat kerja sama para pemain, menyaksikan hubungannya dengan perkawinan adat, sekaligus memahami bahwa musik pernah memainkan fungsi penting dalam kehidupan masyarakat.

Lebih menarik lagi, Gordang Sambilan menunjukkan bahwa budaya bisa berubah tanpa harus sepenuhnya hilang.

Fungsi ritual masa lalu mungkin tidak lagi dominan, tetapi instrumennya menemukan ruang baru melalui kegiatan adat, pertunjukan seni, pelestarian komunitas, pendidikan, dan pengenalan budaya kepada publik.

Itulah alasan Gordang Sambilan layak dipandang bukan sekadar “sembilan gendang besar”, melainkan sebuah jejak panjang perjalanan masyarakat Mandailing.

Gordang Sambilan dalam budaya Mandailing merupakan perpaduan antara musik, adat, sejarah, dan identitas masyarakat.

Sembilan gendang dengan ukuran berbeda menghasilkan pola ritme yang khas, sementara penggunaannya berkembang dari konteks ritual lama menuju berbagai kegiatan adat, termasuk perkawinan.

Pengakuannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013 semakin menegaskan pentingnya kesenian ini untuk dijaga. Namun pelestarian sesungguhnya tetap berada di tangan pemain, komunitas, keluarga, dan generasi muda yang meneruskan pengetahuannya.

Jika suatu hari berkunjung ke Mandailing Natal atau Sibanggor Julu dan mendapat kesempatan menyaksikan Gordang Sambilan, jangan hanya merekamnya. Dengarkan ritmenya, perhatikan para pemainnya, dan kenali cerita adat di balik setiap dentumannya.

FAQ

1. Apa itu Gordang Sambilan?

Gordang Sambilan adalah ansambel musik tradisional Mandailing yang instrumen utamanya terdiri atas sembilan gendang dengan ukuran dan karakter bunyi berbeda.

2. Dari mana Gordang Sambilan berasal?

Gordang Sambilan merupakan kesenian masyarakat Mandailing di Sumatera Utara dan sangat erat dengan Kabupaten Mandailing Natal.

3. Apakah Gordang Sambilan masih dimainkan sekarang?

Ya. Gordang Sambilan masih digunakan dalam berbagai konteks budaya, termasuk upacara pernikahan. Penelitian di Sibanggor Julu mendokumentasikan penyajiannya dalam acara perkawinan masyarakat setempat.

4. Apakah Gordang Sambilan termasuk Warisan Budaya Takbenda?

Ya. Data Pokok Kebudayaan mencatat Gordang Sambilan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Sumatera Utara yang ditetapkan pada tahun 2013.

5. Mengapa Gordang Sambilan penting bagi budaya Mandailing?

Karena kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai musik, tetapi memiliki hubungan dengan upacara adat, sejarah masyarakat, ekspresi sosial, dan identitas budaya Mandailing.