Kakao sebagai Hasil Perkebunan Masyarakat dan Potensi Ekonominya

Kalau melihat buah kakao langsung di pohonnya, bentuknya mungkin tidak langsung mengingatkan kita pada cokelat yang biasa ditemukan di supermarket.

Buahnya cukup besar, kulitnya tebal, sementara di dalamnya terdapat biji yang masih diselimuti lapisan putih. Dari biji itulah perjalanan panjang menuju bubuk kakao dan berbagai produk cokelat dimulai.

Di Indonesia, kakao sebagai hasil perkebunan masyarakat mempunyai posisi yang cukup penting. Direktorat Jenderal Perkebunan menyebut sebagian sangat besar areal kakao nasional dikelola oleh perkebunan rakyat.

Artinya, komoditas ini bukan hanya urusan perusahaan perkebunan besar, tetapi berhubungan langsung dengan kehidupan keluarga petani di berbagai daerah.

Mandailing Natal juga memiliki jejak pengembangan kakao. Pada 2022, misalnya, kelompok tani di Kabupaten Mandailing Natal menerima bantuan bibit kakao dari Kementerian Pertanian, termasuk 1.500 batang yang dialokasikan ke Kecamatan Naga Juang.

Lalu, mengapa tanaman kakao menarik sebagai sumber ekonomi masyarakat?

Mengenal Kakao, Tanaman di Balik Cokelat

Kakao memiliki nama ilmiah Theobroma cacao L. dan menjadi salah satu komoditas perkebunan penting di Indonesia. Bagian tanaman yang memiliki nilai ekonomi utama adalah bijinya, yang kemudian diolah menjadi bahan dasar berbagai produk cokelat.

Namun perjalanan dari pohon menuju cokelat tidak sesederhana memetik buah kemudian menjualnya.

Buah yang telah matang harus dipanen dengan baik, dibuka, lalu bijinya dipisahkan. Setelah itu, penanganan pascapanen sangat menentukan apakah biji yang dihasilkan memiliki kualitas bagus atau justru kehilangan sebagian potensinya.

Karena itulah usaha kakao sebenarnya mencakup dua dunia sekaligus: budidaya di kebun dan pengolahan setelah panen.

Bagi petani, memahami keduanya semakin penting karena kualitas biji ikut menentukan posisi produk ketika masuk ke rantai perdagangan.

Mengapa Kakao Cocok Menjadi Perkebunan Rakyat?

Salah satu karakter menarik perkebunan kakao Indonesia adalah besarnya keterlibatan petani kecil.

Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat sekitar 99 persen tanaman kakao di Indonesia diusahakan melalui perkebunan rakyat. Sumber lain dari lembaga yang sama bahkan mencatat porsi perkebunan rakyat mencapai sekitar 99,39 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ketika membicarakan masa depan kakao Indonesia, kita sebenarnya sedang membicarakan masa depan petani.

Kakao dapat menjadi sumber pendapatan karena buahnya dapat dipanen dan dijual dalam bentuk biji. Kebun juga membuka aktifitas ekonomi lain, mulai dari pembibitan, pemeliharaan tanaman, panen, pengeringan, perdagangan, hingga pengolahan produk.

Selain itu, tanaman kakao dapat berproduksi sepanjang tahun dalam kondisi lingkungan dan pemeliharaan yang sesuai. Tanaman ini pada dasarnya berasal dari lingkungan tropis dengan kelembapan tinggi dan membutuhkan pengelolaan naungan yang tepat.

Bukan berarti menanam kakao otomatis memberikan keuntungan besar. Produktivitas sangat bergantung pada bahan tanam, perawatan, kondisi kebun, serangan organisme pengganggu, serta kemampuan petani menangani hasil panen.

Kakao di Mandailing Natal, Ada Potensi yang Bisa Dikembangkan

Kalau pembahasannya dibawa ke Mandailing Natal, data yang tersedia menunjukkan bahwa kakao memang menjadi salah satu komoditas yang mendapatkan perhatian, meskipun pengembangannya tidak berarti merata di setiap desa.

Pada November 2022, Kementerian Pertanian melalui BBPPTP Medan menyerahkan bibit kakao dan kelapa kepada sejumlah kelompok tani di Mandailing Natal. Kecamatan Naga Juang menjadi penerima bibit kakao dengan jumlah 1.500 batang.

Catatan ini penting karena menunjukkan adanya budidaya dan dorongan pengembangan kakao di tingkat kabupaten.

Namun, untuk kawasan seperti Sibanggor Julu, sumber resmi yang mudah diakses saat ini belum memberikan data cukup kuat untuk menyebut kakao sebagai komoditas utama desa tersebut.

Karena itu, lebih tepat menempatkan kakao sebagai bagian dari potensi perkebunan Mandailing Natal secara lebih luas daripada langsung mengklaimnya sebagai produk unggulan Sibanggor Julu.

Pendekatan seperti ini juga membuat informasi menjadi lebih akurat. Komoditas perkebunan dapat berbeda cukup jauh antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya akibat ketinggian, kondisi tanah, iklim mikro, kebiasaan petani, dan akses pasar.

Dari Buah Kakao hingga Menjadi Biji Siap Jual

Panen sebenarnya baru permulaan.

Setelah buah matang dipetik, petani perlu membuka kulitnya dan memisahkan biji yang masih dilapisi pulp. Biji kemudian masuk ke proses pascapanen sebelum dapat dipasarkan atau diolah lebih lanjut.

Fermentasi bukan sekadar proses tambahan

Fermentasi mempunyai peranan penting dalam peningkatan mutu kakao. Pemerintah bahkan pernah memberikan penghargaan kepada daerah yang berhasil mendorong peningkatan mutu melalui pengolahan kakao fermentasi.

Setelah fermentasi, biji perlu dikeringkan hingga mencapai kondisi yang aman untuk penyimpanan dan perdagangan.

Masalahnya, petani terkadang berada dalam situasi ketika menjual biji secepat mungkin terasa lebih praktis dibanding menjalani proses tambahan. Jika selisih harga biji bermutu dengan biji biasa tidak menarik, insentif untuk memperbaiki pascapanen juga menjadi lebih kecil.

Padahal, di sinilah salah satu peluang terbesar untuk meningkatkan nilai kakao rakyat.

Menjual biji berkualitas lebih baik memberi fondasi bagi masuknya petani atau kelompok usaha ke pasar yang menuntut mutu lebih tinggi.

Tantangan Utama Petani Kakao

Kakao bukan tanaman yang bisa dibiarkan begitu saja setelah ditanam.

Salah satu masalah terbesar adalah serangan hama dan penyakit. Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian menyebut Penggerek Buah Kakao (PBK) dan penyakit vascular streak dieback atau VSD sebagai ancaman penting terhadap produktivitas kebun.

PBK menyerang bagian buah dan dapat merusak perkembangan biji. Selain itu, tanaman yang kurang dipelihara menjadi lebih rentan terhadap gangguan sehingga produktivitas kebun ikut menurun.

Masalah lainnya adalah umur tanaman.

Kebun dengan tanaman tua memerlukan rehabilitasi atau peremajaan agar produktivitas dapat dipertahankan. Petani juga membutuhkan akses terhadap bibit unggul, pemupukan, pemangkasan, pengendalian hama terpadu, dan pendampingan teknis.

Jadi, produktivitas kakao tidak hanya ditentukan oleh luas lahan. Kebun satu hektare yang dikelola dengan baik dapat memberikan hasil yang sangat berbeda dibanding kebun dengan luas sama tetapi minim pemeliharaan.

Nilai Kakao Tidak Berhenti pada Biji Kering

Potensi menarik lainnya terletak pada pengolahan.

Petani biasanya berada pada bagian awal rantai nilai. Buah dipanen, biji diproses, kemudian dijual kepada pedagang. Setelah melewati beberapa tahapan industri, produk tersebut berubah menjadi cokelat dengan nilai jual jauh berbeda.

Di sinilah muncul pertanyaan penting: bisakah sebagian pengolahan dilakukan lebih dekat dengan desa?

Tidak semua kelompok tani harus langsung membangun pabrik cokelat. Langkah awal bisa dilakukan melalui peningkatan mutu fermentasi, sortasi yang lebih konsisten, pengemasan biji berdasarkan asal kebun, atau pembentukan kelompok pemasaran.

Jika kapasitas sudah berkembang, produk turunannya bisa diperluas menjadi nib kakao, bubuk kakao, minuman, atau produk cokelat skala kecil.

BRMP Perkebunan menilai peningkatan kualitas, penggunaan teknologi, peremajaan tanaman, dan penguatan rantai nilai menjadi bagian penting untuk meningkatkan daya saing kakao Indonesia.

Artinya, peluang terbesar belum tentu berasal dari menambah luas kebun, tetapi dari membuat setiap kilogram hasil panen memiliki nilai lebih tinggi.

Limbah Kakao Juga Bisa Bernilai

Ada satu bagian yang sering terlupakan ketika berbicara tentang kakao: kulit buah.

Setelah biji dikeluarkan, jumlah kulit yang tertinggal cukup besar. Jika dibiarkan menumpuk di kebun, limbah organik tersebut dapat menimbulkan persoalan kebersihan dan menjadi tempat berkembangnya organisme yang tidak diinginkan.

Namun kulit buah tidak selalu harus berakhir sebagai sampah.

Berbagai penelitian pertanian telah mengembangkan pemanfaatan kulit kakao untuk kompos dan bahan pakan ternak setelah melalui pengolahan yang sesuai. Pendekatan ini menarik karena memungkinkan sisa panen kembali masuk ke sistem pertanian.

Bagi perkebunan rakyat, konsep seperti ini bisa membantu menciptakan sistem yang lebih efisien. Limbah kebun diolah menjadi kompos, kemudian kompos digunakan kembali untuk mendukung kesuburan lahan.

Dengan demikian, nilai sebuah buah kakao sebenarnya bisa lebih luas daripada hanya bijinya.

Masa Depan Kakao Ada pada Petani dan Pengolahan

Tantangan industri kakao Indonesia cukup kompleks.

BRMP Perkebunan mencatat keterbatasan akses terhadap teknologi, varietas unggul, pupuk, pelatihan budidaya, serta gangguan perubahan iklim sebagai beberapa persoalan yang memengaruhi petani.

Karena mayoritas kebun dikelola masyarakat, solusi juga perlu menyentuh tingkat petani.

Pelatihan pemangkasan, penggunaan bahan tanam berkualitas, fermentasi yang benar, kelompok pemasaran, hingga akses langsung ke industri dapat memberikan dampak lebih nyata daripada sekadar meningkatkan jumlah tanaman.

Untuk daerah seperti Mandailing Natal, kakao juga memiliki peluang dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi komoditas perkebunan.

Namun setiap wilayah tetap perlu melihat kesesuaian lahannya. Kakao tidak harus dipaksakan menjadi komoditas utama apabila kondisi kebun dan pasar lokal ternyata lebih cocok untuk kopi, karet, kelapa, aren, atau tanaman lainnya.

Kakao sebagai hasil perkebunan masyarakat memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar bahan baku cokelat.

Mayoritas kebun kakao Indonesia dikelola oleh rakyat sehingga keberhasilan komoditas ini sangat berkaitan dengan kehidupan petani, pengelolaan kebun, dan kemampuan meningkatkan kualitas hasil panen.

Mandailing Natal juga memiliki jejak pengembangan kakao, salah satunya melalui bantuan 1.500 bibit kepada kelompok tani di Kecamatan Naga Juang pada 2022.

Peluangnya ada pada budidaya yang lebih baik, fermentasi, pengolahan, serta pemasaran bernilai tambah.

Jika berkunjung ke kawasan perkebunan kakao, jangan hanya melihat buah yang menggantung di batang. Kenali juga perjalanan bijinya dan cerita para petani yang berada di balik setiap produk cokelat yang kita nikmati.

FAQ

1. Apa itu tanaman kakao?

Kakao atau Theobroma cacao L. merupakan tanaman perkebunan tropis yang menghasilkan biji sebagai bahan utama berbagai produk kakao dan cokelat.

2. Apakah perkebunan kakao Indonesia banyak dikelola masyarakat?

Ya. Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat sekitar 99 persen pertanaman kakao Indonesia berada pada perkebunan rakyat.

3. Apakah ada perkebunan kakao di Mandailing Natal?

Ada pengembangan kakao di Kabupaten Mandailing Natal. Pada 2022, kelompok tani di Kecamatan Naga Juang menerima bantuan sebanyak 1.500 bibit kakao dari Kementerian Pertanian.

4. Mengapa biji kakao perlu difermentasi?

Fermentasi merupakan salah satu tahapan penting dalam menghasilkan biji dengan mutu yang lebih baik dan membentuk karakter bahan baku yang nantinya digunakan dalam pengolahan cokelat. Upaya peningkatan mutu kakao fermentasi juga telah menjadi bagian program pengembangan perkebunan pemerintah.

5. Apa tantangan terbesar budidaya kakao?

Beberapa tantangannya adalah Penggerek Buah Kakao, penyakit VSD, tanaman tua, pemeliharaan yang kurang optimal, perubahan iklim, serta keterbatasan akses petani terhadap teknologi dan bahan tanam unggul.