Bagi masyarakat Sibanggor Julu, Gunung Sorik Marapi bukan sekadar gunung yang terlihat indah di kejauhan.
Gunung ini berdiri sangat dekat dengan kehidupan desa, bahkan secara administratif kawasan Sorik Marapi berada di wilayah Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal.
Sebuah penelitian geofisika mencatat Sorik Marapi sebagai gunung vulkanik aktif setinggi sekitar 2.145 meter yang berada dalam kawasan Taman Nasional Batang Gadis.
Karena kedekatan tersebut, Gunung Sorik Marapi dan hubungannya dengan Sibanggor Julu dapat ditemukan hampir di setiap sudut kehidupan.
Sejarah perpindahan kampung berkaitan dengan aktivitas gunung, rumah tradisional menggunakan atap ijuk yang sesuai dengan lingkungan vulkanik, sementara aliran air dari pegunungan memengaruhi pertanian dan munculnya sumber air panas.
Di sisi lain, hidup di dekat gunung aktif juga berarti masyarakat harus memahami risiko. Sorik Marapi memberikan keindahan, sumber daya, dan identitas, tetapi pada saat bersamaan menuntut kemampuan beradaptasi.
Mengenal Gunung Sorik Marapi
Sorik Marapi merupakan gunung api berbentuk stratovolcano atau gunung api komposit.
Smithsonian Institution mencatat ketinggian puncaknya sekitar 2.145 meter di atas permukaan laut, dengan batuan utama berupa andesit, basaltik-andesit, dan dasit. Di kawasan puncaknya juga terdapat kawah serta aktivitas fumarola.
Gunung ini perlu dibedakan dari Gunung Marapi di Sumatera Barat maupun Gunung Merapi di Jawa Tengah. Namanya memang mirip, tetapi ketiganya merupakan gunung api berbeda.
Sorik Marapi berada di kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Penelitian yang melibatkan akademisi serta peneliti dari PVMBG dan BMKG menempatkan gunung tersebut secara administratif di Desa Sibanggor Julu, Mandailing Natal.
Karena itulah nama Sibanggor dan Sorik Marapi begitu sering muncul bersama. Hubungan keduanya bukan sekadar hubungan antara desa wisata dan objek alam, tetapi antara sebuah komunitas dengan lingkungan tempat kehidupan mereka berkembang.
Letusan Sorik Marapi Pernah Mengubah Permukiman
Hubungan paling kuat dapat dilihat dari sejarah kampung.
Buku Kearifan Tradisional Masyarakat Desa Sibanggor Julu mencatat bahwa permukiman lama Sibanggor Julu dahulu dikenal dengan nama Singajambu.
Setelah aktivitas letusan Sorik Marapi pada 1892 dan 1893, permukiman tersebut dipindahkan menuju lokasi yang ditempati masyarakat sekarang. Kajian mengenai arsitektur ekologis kampung Mandailing memberikan gambaran serupa.
Penelitian tersebut menyebut letusan pada 1892 menjadi salah satu alasan pemindahan kampung, sementara sekitar 1894 masyarakat sudah menempati kawasan yang dikenal sebagai Singa Jambu atau Sibanggor Julu sekarang.
Catatan Smithsonian sendiri menunjukkan Sorik Marapi mempunyai sejarah aktivitas vulkanik yang panjang. Erupsi terakhir yang tercatat dalam basis data tersebut berlangsung pada 1986, sementara peningkatan aktivitas fumarola dan kegempaan juga pernah dilaporkan setelahnya.
Jadi bagi masyrakat Sibanggor, letusan gunung bukan sekadar cerita dari buku geografi. Peristiwa tersebut pernah benar-benar memengaruhi lokasi tempat leluhur mereka membangun kampung.
Rumah Ijuk Lahir dari Adaptasi dengan Lingkungan Vulkanik
Salah satu bukti hubungan Sorik Marapi dan Sibanggor Julu yang masih bisa dilihat sekarang adalah Bagas Ijuk.
Rumah panggung tradisional beratap ijuk menjadi ciri khas desa. Balai Taman Nasional Batang Gadis menjelaskan penggunaan ijuk bukan semata-mata pilihan estetika, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan gunung api.
Ijuk relatif tahan terhadap pengaruh zat belerang dibanding beberapa material seperti seng yang lebih mudah mengalami korosi. Selain itu, lapisan ijuk membantu menjaga kestabilan suhu di dalam rumah—lebih hangat ketika cuaca dingin dan relatif sejuk saat udara panas.
Bahan tersebut berasal dari pohon aren yang banyak ditemukan di kebun masyarakat sekitar.
Ini menjadi contoh menarik bagaimana arsitektur tradisonal tidak muncul secara kebetulan. Masyarakat memperhatikan kondisi lingkunganya, menggunakan material yang tersedia, lalu meneruskan teknik tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sorik Marapi akhirnya tidak hanya membentuk pemandangan desa, tetapi ikut memengaruhi bentuk rumah yang dihuni masyarakat.
Sumber Air Panas Menjadi Bagian dari Lanskap Sibanggor
Jejak aktivitas vulkanik juga mudah ditemukan melalui air panas.
Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal menyebut kawasan Sibanggor terdiri atas Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga, dan Sibanggor Julu. Wilayah ini memiliki berbagai aliran air panas kecil yang berkaitan dengan lingkungan kaki Sorik Marapi.
Salah satu lokasi pemandian yang dikenal berada di kawasan antara Sibanggor Tonga dan Sibanggor Jae.
Keberadaan sumber air seperti ini memberi karakter tersendiri pada kawasan Sibanggor. Air panas dan aroma belerang membuat pengunjung langsung menyadari bahwa mereka sedang berada di lingkungan vulkanik.
Namun bagi warga, air dari pegunungan tidak selalu dapat dimanfaatkan dengan cara yang sama.
Kajian tentang kearifan masyarakat Sibanggor mencatat beberapa sumber dan aliran air mengandung belerang atau unsur lain sehingga tidak semuanya cocok untuk pertanian maupun kebutuhan konsumsi.
Artinya, masyarakat harus mengenali sumber mana yang dapat digunakan dan mana yang perlu dihindari.
Sorik Marapi Ikut Membentuk Kehidupan Pertanian
Sibanggor Julu merupakan kampung yang sejak lama mempunyai hubungan erat dengan kegiatan pertanian.
Permukiman dikelilingi sawah, kebun, tegalan, dan kawasan hutan. Sumber air yang berhulu dari wilayah Sorik Marapi menjadi bagian penting dalam pengairan beberapa areal pertanian.
Di kawasan kebun, masyarakat secara historis menanam berbagai komoditas seperti kopi, aren, kayu manis, karet, serta tanaman pangan dan hortikultura.
Kondisi pegunungan memberikan keuntungan berupa sumber air dan lingkungan yang mendukung kehidupan agraris. Namun unsur vulkanik juga menciptakan tantangan karena beberapa aliran yang memiliki kandungan tertentu tidak dapat digunakan untuk mengairi sawah.
Dari sini terlihat bahwa hubungan masyarakat dengan gunung tidak bisa dibagi sederhana menjadi “menguntungkan” atau “berbahaya”.
Keduanya hadir secara bersamaan.
Warga memanfaatkan sumber daya yang tersedia sekaligus belajar membaca batas-batas alam melalui pengalaman yang diwariskan selama bertahun-tahun.
Dari Gunung Api hingga Potensi Panas Bumi
Sorik Marapi juga mempunyai sisi lain yang semakin penting dalam kehidupan modern: energi panas bumi.
Penelitian geofisika mengenai gunung tersebut menyebut Sorik Marapi sebagai salah satu kawasan sumber daya geothermal dengan temperatur tinggi.
Kawasan panas bumi Sorik Marapi kemudian dikembangkan untuk produksi energi. Dokumen Kementerian ESDM juga mencatat Area Panas Bumi Sorik Marapi sebagai salah satu fasilitas energi di Kabupaten Mandailing Natal.
Perkembangan ini membuat hubungan masyarakat dengan lanskap vulkanik semakin kompleks.
Pada masa lalu, gunung terutama berhubungan dengan pertanian, sumber air, belerang, serta cerita letusan. Kini energi yang tersimpan di bawah tanah juga dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik.
Di sisi lain, keselamatan tetap menjadi isu penting. Kementerian ESDM pernah mencatat kejadian paparan H2S di area panas bumi pada September 2022 yang berdampak pada warga Sibanggor Julu dan Sibanggor Tonga.
Karena itu, pemanfaatan sumber daya membutuhkan pengawasan, standar keselamatan, komunikasi dengan warga, dan kesiapsiagaan yang serius.
Sorik Marapi sebagai Bagian dari Identitas Sibanggor Julu
Gunung juga mempunyai nilai budaya dan visual.
Bayangkan kampung dengan rumah kayu beratap ijuk, kebun aren, udara pegunungan, lalu Sorik Marapi menjulang di belakangnya. Lanskap seperti inilah yang membuat identitas Sibanggor Julu sulit dipisahkan dari gunung.
Bahkan beberapa istilah lokal, sumber air, pola pertanian, sampai bahan bangunan berkembang dalam konteks lingkungan Sorik Marapi.
Dengan begitu, gunung bukan sekadar objek wisata yang dikunjungi pendaki.
Sorik Marapi adalah bagian dari cerita kampung.
Jika rumah ijuk memperlihatkan kemampuan masyarakat beradaptasi, sejarah Singajambu mengingatkan pada risiko letusan. Sementara air panas dan pemanfaatan panas bumi menunjukkan bahwa aktivitas geologi juga menghasilkan sumber daya.
Hubungan tersebut membuat Sibanggor Julu menarik dipelajari sebagai contoh bagaimana manusia hidup berdampingan dengan gunung api aktif.
Berkunjung ke Sorik Marapi Tetap Harus Memperhatikan Keselamatan
Karena merupakan gunung api aktif, kondisi Sorik Marapi dapat berubah.
Pada 3 April 2026, PVMBG menaikkan tingkat aktivitas Sorik Marapi dari Level I atau Normal menjadi Level II atau Waspada setelah terjadi peningkatan kegempaan. Masyarakat juga diperingatkan untuk menjauhi kawah utama serta beberapa kawah lain karena potensi paparan gas beracun.
Balai Taman Nasional Batang Gadis kemudian menutup sementara jalur pendakian mulai 4 April 2026 sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Informasi seperti ini penting karena aktifitas gunung dapat berubah sewaktu-waktu. Status yang berlaku saat artikel dibaca juga bisa berbeda.
Karena itu, wisatawan yang ingin mendaki sebaiknya tidak hanya mengandalkan artikel perjalanan atau video lama. Selalu periksa informasi terbaru dari PVMBG/MAGMA Indonesia dan Balai Taman Nasional Batang Gadis sebelum berangkat.
Sibanggor Julu sendiri tetap menarik dipelajari dari sisi budaya dan kampungnya, tetapi keselamatan harus selalu menjadi pertimbangan utama.
Gunung Sorik Marapi dan hubungannya dengan Sibanggor Julu jauh lebih dalam daripada sekadar kedekatan geografis.
Gunung ini ikut membentuk perjalanan sejarah kampung, memengaruhi perpindahan permukiman, menyediakan sumber air, membentuk lingkungan pertanian, dan mendorong masyarakat menggunakan ijuk sebagai material rumah yang sesuai dengan kondisi vulkanik.
Di masa modern, hubungan tersebut berkembang melalui pemanfaatan energi panas bumi dan kegiatan wisata. Namun Sorik Marapi tetap merupakan gunung api aktif sehingga kesiapsiagaan tidak boleh diabaikan.
Jika berkunjung ke Sibanggor Julu, jangan hanya memandang gunung dari kejauhan. Kenali rumah ijuknya, sumber airnya, kebun masyarakat, dan cerita perpindahan kampung.
Dari sana kita bisa memahami bahwa Sorik Marapi bukan sekadar latar belakang desa-ia adalah bagian dari perjalanan hidup masyarakatnya.
FAQ
1. Di mana Gunung Sorik Marapi berada?
Gunung Sorik Marapi berada di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, dalam kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Secara administratif gunung ini berkaitan langsung dengan wilayah Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi.
2. Berapa ketinggian Gunung Sorik Marapi?
Ketinggian Sorik Marapi sekitar 2.145 meter di atas permukaan laut. Smithsonian Global Volcanism Program mengklasifikasikannya sebagai stratovolcano aktif.
3. Apa hubungan letusan Sorik Marapi dengan sejarah Sibanggor Julu?
Sumber mengenai kearifan tradisional masyarakat mencatat permukiman lama yang dikenal sebagai Singajambu berpindah setelah aktivitas letusan Sorik Marapi pada 1892–1893.
4. Mengapa rumah di Sibanggor Julu banyak menggunakan atap ijuk?
Ijuk digunakan karena relatif tahan terhadap pengaruh belerang dari lingkungan vulkanik sekaligus membantu menjaga suhu di dalam rumah tetap nyaman. Bahan tersebut berasal dari pohon aren yang terdapat di kebun masyarakat.
5. Apakah Gunung Sorik Marapi bisa didaki?
Akses bergantung pada kondisi aktivitas vulkanik dan kebijakan pengelola. Balai TN Batang Gadis mengumumkan penutupan sementara jalur pendakian mulai 4 April 2026 setelah status gunung naik menjadi Level II (Waspada), sehingga informasi terbaru perlu diperiksa sebelum berkunjung.